:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2077672/original/067044400_1523509123-20180412-12-Gerbong-Kereta-MRT-Tiba-di-Lebak-Bulus-ARYA-5.jpg)
Liputan6.com, Jakarta - Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta akan dioperasikan pada Maret 2019 dan digadang-gadang menjadi transportasi berbasis rel paling modern. Untuk pertama kalinya, Indonesia akan memiliki kereta bawah tanah yang melayani penumpang secara komuter.
Keberadaan MRT tidak hanya memenuhi dari segi infrastruktur, tapi juga memastikan adanya integrasi yang baik antarmoda transportasi di Jakarta. Seperti halnya di negara-negara lainnya, yakni Jepang, Korea Selatan, Singapura, ataupun Malaysia.
Bahkan berjalan kaki telah menjadi budaya ataupun kebiasaan di berbagai negara tersebut. Budaya itu pun menjadi kekaguman Widya Handayani, salah satu karyawan perusahan alat musik asal Jepang yang beroperasi di Cibitung, Kabupaten Bekasi. Tiga tahun yang lalu ketika tinggal di Shizuoka, Jepang, Widya mengaku keheranan saat perjalanan bersama temannya menuju Stasiun Hamamatsu.
Bersih dan rapi menjadi kata-kata yang diingatnya. Trotoar pun bersih tanpa ada pedagang kaki lima (PKL) ataupun asongan. Widya menyatakan, warga yang tinggal di Negara Sakura harus menggunakan bus ataupun rela berjalan kaki menuju stasiun. Ketika memasuki stasiun, warga yang tidak buru-buru langsung berdiri di tangga bagian kiri. Sebab bagian kanan disediakan untuk penumpang yang terburu-buru.
Seperti halnya naik kereta commuter line di Indonesia, sebelum memasuki kawasan menunggu kereta, calon penumpang harus memilih tiket seperti nice pass, Toica, ataupun Suica. Sedangkan isi ulang kartu juga dapat dilakukan pada vending machine tiket yang ada.
"Kalau ini sama kayak di Indonesia sih ada e-money atau kartu yang bisa diisi ulang di stasiun. Harga tiketnya sendiri berbeda sesuai jarak," kata Widya kepada Liputan6.com, Minggu, 29 Oktober 2018.
Untuk kawasan concourse, tidak semua stasiun menjualkan makanan. Kata dia, hanya kawasan pusat bisnis atau perkantoran saja. Akan tetapi, beberapa vending machine khusus makanan atau minuman tersedia di setiap stasiun.
Kekagumannya bertambah kala di peron menunggu kereta. Saat kereta tiba, waktu kedatangan sangat tepat seperti yang ditetapkan. Kemudian, antrean langsung terbelah dua dengan mendahulukan penumpang turun. Dia mengaku tidak menemukan penumpang naik dan turun kereta saling bertabrakan ataupun saling mengumpat.
Setelah itu, penumpang yang menunggu di peron dapat memasuki kereta dengan rapi dan mengantre. Suasana di dalam kereta juga membuat Widya bergumam. Karena jauh berbeda dengan suasana di kereta listrik yang biasa dia jumpai di tanah air. Tak ada warga Jepang yang berisik ketika di dalam kereta, bahkan untuk mengangkat telepon genggam pun mereka segan.
Sementara itu untuk penyandang disabilitas, Widya menyebut tidak ada pembeda dengan kereta yang sering ditumpanginya dari Bekasi ke Jakarta. Yakni, disediakan bangku khusus dan biasanya tidak akan ditempati warga biasa.
"Dan mereka ada pelayanan gratis tiket kereta untuk kaum manula. Jadi kayak ada kartu khusus yang saat ditapping enggak perlu bayar," jelasnya.
https://www.liputan6.com/news/read/3679755/harapan-lahirnya-budaya-tertib-di-mrt-jakarta
No comments:
Post a Comment