Pages

Thursday, April 30, 2026

Universitas Surabaya di Puncak Performa, Sukses Raih Gelar Ganda Campus League

Post Ulang zeranjerat.blogspot.com

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Universitas Surabaya (Ubaya) mengukuhkan diri sebagai penguasa basketball kampus di Jawa Timur. Pada partai final Campus League Basketball Regional Surabaya, yang berlangsung di GOR Basket Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Rabu (29/4/2026), Ubaya sukses merebut gelar ganda, juara tim putri dan tim putra sekaligus. Di laga final pertama, Tim Putri Ubaya melibas Universitas Ciputra Makassar (UCM) dengan skor meyakinkan 95-28. Berikutnya, giliran Tim Putra Ubaya yang mengandaskan perlawanan wakil Papua Universitas Cendrawasih (Uncen) 84-48.

Tim Putri Ubaya tampil impresif dan solid di semua lini. Meski sempat mendapat perlawanan dari UCM di awal laga, skuat asuhan Wellyanto Pribadi ini mampu menjaga tempo permainannya. Transisi yang cepat dan disiplin defense membuat UCM kesulitan menembus. Masuk quarter kedua Ubaya makin panas dan cukup efektif mengonversi poin lewat fastbreak maupun second chance. Ubaya mampu menutup babak pertama dengan margin lebar 44-14.

Usai halftime Ubaya tak mengendurkan intensitas, rotasi pemain berjalan dengan mulus dengan tetap menjaga kualitas permainan. UCM hanya mampu mencatatkan 4 poin di quarter ketiga. Masuk quarter keempat, laga praktis dikuasai Ubaya. Mereka tetap bermain disiplin hingga buzzer berbunyi, yang memastikan medali emas dan podium juara putri Campus League Basketball Regional Surabaya jadi milik Tim Putri Ubaya.

Meski menang dengan skor meyakinkan dan sukses jadi yang terbaik di Regional Surabaya, Pelatih Tim Putri Ubaya Wellyanto Pribadi menyoroti permainan anak asuhnya yang dinilai belum maksimal di partai final. Ia menekankan akan terus mengevaluasi secara keseluruhan. Terlebih dengan tiket menuju babak The National, lawan-lawan yang lebih berat dari regional lainnya sudah menanti.

“Memang kami menang, namun kalau melihat persentase efektivitas di pertandingan ini justru kami menurun. Dari berapa kali percobaan cuma berapa poin yang berhasil. Sekarang fokus kita itu ke persaingan di Campus League National yang lawannya lebih berat, terutama dari Jakarta. Skill dan kualitasnya bagus-bagus pemainnya juga tinggi-tinggi. Jadi kami perlu kerja lebih keras untuk di level nasional,” ungkapnya kepada para awak media.

Shooting guard Tim Putri Ubaya Evelyn Fiyo turut menyoroti pentingnya peningkatan kualitas permainan ketimbang euforia gelar juara berlebihan. Menurut pemain timnas basket 3x3 yang sukses meraih medali emas SEA Games 2025 Filipina ini, kompetisi belum benar-benar berakhir karena lawan yang jauh lebih berat sudah menanti di babak The National. Ia mengajak rekan-rekannya untuk lebih baik lagi dalam persiapan.

“Untuk babak nasional, kami persiapannya itu cari lawan tanding yang lebih susah. Juga di dalam tim kami upayakan makin solid. Waktu sebelum main di regional sekarang ini pun kami juga kita latihannya itu melawan tim putra, tujuannya untuk menguatkan defense,” sebut Fiyo.

Pencapaian tim putri ini kemudian digandakan dengan kemenangan Tim Putra Ubaya atas Universitas Cendrawasih (Uncen). Sejak tip-off sebenarnya Uncen bermain lebih berani dan dominan dengan memberikan tekanan keras kepada Ubaya. Namun agresivitas Uncen berhasil diredam Ubaya yang lebih rapi dan efektif meraup poin. Meski keduanya ngotot dalam perebutan poin, namun hingga turun minum Ubaya tetap unggul dengan 45-27.

Selepas halftime, giliran Ubaya tampil lebih lugas. Offense yang presisi membuat Ubaya kian memperlebar jarak. Puncaknya di quarter terakhir, Ubaya makin di atas angin. Meski Uncen berusaha keras mengejar defisit poin, namun margin yang terlanjur jauh membuat upaya mereka tidak cukup untuk membalik keadaan. Alhasil Ubaya memastikan medali emas putra Campus League Basketball Regional Surabaya juga berhasil dibawa pulang.

“Kami sempat kesulitan di quarter 1 dan 2, tapi karena pelatih terus memberikan arahan yang tepat akhirnya bisa kami eksekusi dengan baik dan tentunya menguntungkan kami di quarter 3 dan 4. Kami bersyukur bisa menang di tingkat regional dan pastinya menambah motivasi kami untuk bisa juara level selanjutnya yaitu di Campus League Basketball The National,” ujar bintang Ubaya, Bobby Geraldo Alanda.

Senada, Wakil Rektor Ubaya, Prof. Dr., apt., Christina Avanti sejak awal meyakini timnya mampu meraih medali emas jika bermain dengan konsisten. “Dari awal perekrutan tim ini kami memang sudah target Ubaya bisa selalu menang sampai jatuh bangun. Kami tahu Uncen adalah lawan yang berat dan menantang. Tapi saya pikir kalau mereka bisa melewati pertandingan final ini saya yakin anak-anak kami bisa melewati tantangan-tantangan di level nasional berikutnya,” ujarnya.

Dengan hasil ini, Tim Putri dan Putra Ubaya otomatis mengantongi tiket untuk melangkah ke babak The National Campus League Basketball yang akan berlangsung di Jakarta pada 6-13 Juni 2026. Mereka melaju bersama Tim Putri Universitas Ciputra Makassar dan Tim Putra Universitas Cendrawasih sebagai peringkat kedua, untuk menghadapi tim-tim terbaik yang berasal dari empat regional lainnya, yaitu Bandung, Yogyakarta, Samarinda, dan Jakarta.

Stimulasi Ekosistem Basket di Surabaya

Sementara itu, CEO Campus League Ryan Gozali menyebut kompetisi di Regional Surabaya berjalan dengan lancar dengan antusiasme yang besar dari perguruan tinggi dan para student-athlete di Jawa Timur dan sekitarnya. Sejak dimulai Rabu (22/4), sebanyak 16 tim putra dan 8 tim putri dari 17 perguruan tinggi telah ambil bagian.

Ryan mengatakan meski rentang kualitas antar tim peserta di Regional Surabaya cukup beragam, namun hal itu merupakan dinamika yang justru jadi tantangan bersama untuk terus melakukan peningkatan dalam pembinaan dan kompetisi yang lebih baik agar kualitas tim basket kampus di Surabaya semakin merata.

“Justru kita berharap dengan Campus League ini ekosistem olahraga di kampus ini jadi termotivasi. Ada pergerakan-pergerakan baru. Saya mengamati dari tahun 2012 di Jawa Timur itu secara tradisional ada Ubaya dan Unair yang kuat. Tapi karena ada kekosongan (kompetisi) cukup lama, jadi petanya agak berubah. Maka kemudian kita ingin agar ini menjadi stimulasi baru untuk ekosistem basket, tidak hanya Surabaya, tapi juga seluruh Indonesia,” jelas Ryan.

Dalam kesempatan yang sama Wakil Rektor IV Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof. Dr. Dwi Cahyo Kartiko S.Pd., M.Kes. menyampaikan apresiasi terhadap Campus League sebagai wadah kompetisi dan prestasi para mahasiswa di Surabaya dan sekitarnya. Ia merasa bangga, meski Tim Putra Unesa hanya meraih juara ketiga, namun di sisi lain berhasil menjadi tuan rumah yang baik sekaligus berkolaborasi untuk ikut menstimulasi kembali ekosistem basket di Surabaya.

“Kami bersyukur dan berterima kasih dipercaya sebagai tuan rumah Campus League Basket di Surabaya. Ini menjadi komitmen dan semangat kami di Unesa sebagai kampusnya para juara. Untuk saat ini, lumayan kami masih bisa meraih peringkat ketiga. Ini menjadi sengatan bagi kami untuk lebih intensif lagi supaya bisa bersaing di level atas di tahun-tahun berikutnya. Saya juga ingin mengajak untuk generasi muda para mahasiswa untuk ikut di Campus League. Karena melalui olahraga dan berkompetisi merupakan sarana pembentukan karakter yang sesungguhnya,” urai Dwi Cahyo.

Semangat sportivitas dan energi tinggi di lapangan ini juga sejalan dengan visi Polytron yang hadir sebagai mitra pendukung utama kompetisi untuk menyemarakkan Campus League di setiap kota, termasuk Surabaya. Melalui kompetisi ini, Polytron berkomitmen menghadirkan warna baru dengan memperkenalkan berbagai inovasi teknologi yang lekat dengan gaya hidup anak muda, memastikan ajang ini menjadi panggung prestasi yang modern dan inspiratif.

“Salah satu bentuk partisipasi nyata tersebut adalah dengan menghadirkan motor listrik Polytron Fox Electric sebagai solusi mobilitas masa depan bagi para mahasiswa. Kehadiran Fox Electric merupakan langkah kami untuk mendukung transisi anak muda menuju transportasi yang tidak hanya ramah lingkungan, namun juga relevan dengan energi positif di Campus League. Kami ingin mengambil bagian agar kompetisi ini lebih dari sekadar ajang olahraga, tetapi juga menginspirasi generasi muda untuk mengadopsi teknologi berkelanjutan yang fungsional,” ungkap Commercial Director Polytron, Tekno Wibowo. 

Adblock test (Why?)


Universitas Surabaya di Puncak Performa, Sukses Raih Gelar Ganda Campus League
Klik Source

Megawati Mundur dari Timnas Voli Putri Jelang Tiga Turnamen Besar

Post Ulang zeranjerat.blogspot.com

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kabar mengejutkan datang dari skuad tim nasional voli putri Indonesia. Opposite andalan Megawati Hangestri Pertiwi resmi mengundurkan diri dari tim Merah Putih.

Keputusan tersebut disampaikan melalui surat resmi kepada Pengurus Pusat Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia pada 27 April 2026. Dalam pernyataan yang diunggah melalui akun media sosial Indonesian Volleyball, faktor kesehatan menjadi salah satu alasan utama di balik langkah tersebut.

Megawati mengungkapkan, keputusannya diambil setelah mempertimbangkan berbagai hal, mulai dari kondisi fisik, perjalanan karier profesional, hingga rencana pribadinya ke depan.

PP PBVSI menyatakan menghormati keputusan tersebut dan telah menyetujui pengunduran diri sang pemain. Federasi juga menegaskan komitmennya untuk tetap memberikan dukungan penuh kepada Megawati, yang selama ini menjadi salah satu pilar penting timnas voli Indonesia.

Sebelumnya, PBVSI telah menetapkan 17 pemain untuk mengikuti pemusatan latihan nasional (pelatnas) sebagai persiapan menghadapi sejumlah agenda internasional. Wakil Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBVSI Loudry Maspaitella menyebutkan, timnas akan berlaga di tiga turnamen besar dalam waktu dekat.

Ajang pertama adalah AVC Nation’s Cup for Women di Filipina pada 6–9 Juni 2026. Setelah itu, berlanjut ke SEA V League for Women yang digelar di Vietnam dan Thailand pada akhir Juli hingga awal Agustus. Terakhir, AVC Continental Cup for Women di Tianjin, China pada 21–30 Agustus 2026.

“Pemain yang dipanggil harus tiba di Padepokan Bolavoli Jenderal Kunarto, Sentul maksimal pada 4 Mei 2026,” ujar Loudry, Senin (27/4/2026).

Nama Megawati sebelumnya masih tercantum dalam daftar pemain pelatnas. Namun, dengan mundurnya pemain asal Jawa Timur tersebut, tim pelatih kini harus melakukan penyesuaian komposisi, khususnya di lini serang.

Sejumlah pemain tetap menjadi andalan, seperti Mediol Stiovanny Yoku, Tisya Amallya Putri, dan Maradanti Namira. Selain itu, wajah baru Shindy Sasgia Dwi Yuniar turut mendapat kesempatan bergabung untuk pertama kalinya di timnas senior.

Di jajaran ofisial, Marcos Sugiyama dipercaya sebagai kepala pelatih yang akan memimpin persiapan tim.

Meski kehilangan salah satu pemain kunci, timnas voli putri Indonesia diharapkan tetap mampu menunjukkan performa terbaik dan bersaing di level internasional pada rangkaian turnamen mendatang. 

Adblock test (Why?)


Megawati Mundur dari Timnas Voli Putri Jelang Tiga Turnamen Besar
Klik Source

Wednesday, April 29, 2026

Kontroversi Penalti Warnai Hasil Imbang Atletico Vs Arsenal di Leg Pertama Semifinal Liga Champions

Post Ulang zeranjerat.blogspot.com

Penyerang Atletico Madrid Julian Alvarez merayakan gol penaltinya ke gawang Arsenal dalam pertandingan leg pertama Liga Champions di Stadion Metropolitano, Madrid, Kamis (30/4/2026) dini hari WIB.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Arsenal meraih hasil imbang 1-1 saat melawan ke kandang Atletico Madrid pada leg pertama semifinal Liga Champions, Kamis (30/4/2026) dini hari WIB. Namun, skor di Stadion Metropolitano ini diwarnai keputusan kontroversial Danny Makkelie dari Belanda yang memimpin laga ini. Setidaknya, di mata media Inggris dan Spanyol.

Arsenal mendapatkan penalti pada pengujung babak pertama setelah Viktor Gyokeres dijatuhkan di kotak terlarang. Gyokeres sendiri yang mengeksekusi penalti dan sukses membawa Arsenal memimpi 1-0.

Penalti ini dikritik media Spanyol yang menganggap kontak tak cukup kuat dari bek Atletico Hancko kepada Gyokeres dan Makkelie mengambil keputusan penalti tanpa melihat VAR. Keputusan ini juga diprotes keras oleh para pemain Atletico yang mengerubungi Makkelie.

Sebaliknya pada babak kedua, giliran kubu Inggris yang meradang. Sebab, penalti yang diberikan karena Ben White dianggap melakukan handball dianggap tak tepat. Kali ini, Makkelie lebih dulu melihat tayangan VAR sebelum mengambil keputusan itu.

Sejumlah pundit sepak bola Inggris menilai ini tak seharusnya penalti karena bola mengenai tulang kering White sebelum berubah arah ke tangannya. Namun, penalti tetap diberikan. Penalti ini dieksekusi sempurna oleh Julian Alvarez untuk membuat skor 1-1.

Sementara yang terakhir, Makkelie sudah memutuskan penalti saat Hancko melanggar Eberechi Eze. Namun, ia kemudian berkonsultasi dengan petugas VAR dan setelah itu berlari ke pinggir lapangan untuk melihat video. Setelah menyaksikan monitor sebentar, sang wasit memutuskan membatalkan penalti yang membuat kubu Arsenal kesal dan jadi perdebatan di kalangan para pundit sepak bola Inggris.

"Saya tidak berpikir itu pelanggaran handball oleh Ben White karena bola memantul dari tulang keringnya terlebih dahulu dan lengannya sedikit keluar. Faktanya, bola memang mengenai tulang keringnya terlebih dahulu," kata mantan penyerang timnas Inggris Chris Sutton yang menjadi pundit di BBC.

Ia menilai Hancko dengan ceroboh menginjak sebagian kaki Eze dan para pemain Atletico tidak benar-benar memprotes. Menurut Sutton, itu tanda terbesar dari para pemain bahwa keputusan awal Makkelie sudah tepat.

"Mereka protes dengan sangat keras saat penalti Gyokeres, bahkan sampai berhadapan langsung dengan wasit," kata Sutton membandingkan dengan keputusan penalti pertama.

sumber : Reuters

Advertisement

Adblock test (Why?)


Kontroversi Penalti Warnai Hasil Imbang Atletico Vs Arsenal di Leg Pertama Semifinal Liga Champions
Klik Source

Luis Enrique Puji Daya Juang PSG Saat Bungkam Munchen pada Leg Pertama Semifinal Liga Champions

Post Ulang zeranjerat.blogspot.com

Pelatih Paris Saint Germain (PSG) Luis Enrique.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pelatih Paris Saint-Germain (PSG) Luis Enrique menyanjung daya juang pemain asuhannya ketika menjungkalkan Bayern Munchen dengan skor 5-4 pada leg pertama semifinal Liga Champions di Stadion Parc des Princes, Paris, Rabu (29/4/2026) dini hari WIB.

Dikutip dari laman resmi klub, Rabu, Enrique mengatakan ini merupakan kemenangan penting bagi PSG. Terlebih, Bayern merupakan tim yang baru kalah tiga kali musim ini.

"Sungguh luar biasa, dan di momen-momen menegangkan, atmosfer di stadion ini sangat sempurna. Namun, Anda harus memahami bahwa Anda bermain melawan salah satu tim terbaik di Eropa dan itu pertandingan yang sulit," jelas Enrique.

Pelatih berkebangsaan Spanyol itu melanjutkan, PSG harus menunjukkan penampilan seperti ini ketika melakoni leg kedua di kandang Bayern, pekan depan.

Mengenai jalannya pertandingan, Enrique menjelaskan Bayern tampil lebih baik pada awal pertandingan dan sempat membuat Ousmane Dembele serta kolega kesulitan.

"Awal pertandingan sangat sulit karena mereka memulai babak pertama lebih baik dari kami. Kami kebobolan gol pertama dan sulit untuk mengendalikan permainan. Namun tim mulai menunjukkan bagaimana mereka biasanya bermain," terang Enrique.

Pada pertandingan ini terjadi kejar-kejaran gol dan PSG mengemas kemenangan berkat gol dari Khvicha Kvaratskhelia (2), Joao Neves, dan Ousmane Dembele (2), demikian catatan UEFA.

Sementara itu, Bayern memberikan perlawanan melalui gol yang dicetak oleh Harry Kane, Michael Olise, Dayot Upamecano, dan Luis Diaz.

Kemenangan ini membuat PSG hanya perlu mengamankan hasil imbang untuk lolos ke final Liga Champions, sedangkan Bayern diwajibkan untuk meraih kemenangan dengan selisih dua gol pada leg kedua agar bisa lolos ke final.

sumber : Antara

Advertisement

Adblock test (Why?)


Luis Enrique Puji Daya Juang PSG Saat Bungkam Munchen pada Leg Pertama Semifinal Liga Champions
Klik Source

Tuesday, April 28, 2026

Pahit, Indonesia Tersingkir di Fase Grup Piala Thomas untuk Kali Pertama dalam Sejarah

Post Ulang zeranjerat.blogspot.com

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Langit kelabu menaungi perjalanan Tim Indonesia di Piala Thomas 2026. Untuk pertama kalinya dalam sejarah panjang bulu tangkis Merah Putih, langkah tim kita terhenti begitu cepat, bahkan sebelum babak gugur sempat dijamah.

Di Forum Horsens, Denmark, sejarah kelam itu terukir, yang sulit diterima. Kekalahan 1-4 dari Prancis pada laga terakhir fase Grup D, Rabu (29/4/2026) dini hari WIB, membuat posisi Indonesia yang tadinya memimpin grup kini turun ke peringkat tiga. Sebuah penutup yang menyayat dari awal yang cukup menjanjikan.

Indonesia tak hanya tersingkir, tetapi juga mencatatkan salah satu hasil paling mengecewakan sepanjang keikutsertaannya di turnamen beregu paling prestisius tersebut. Sulit rasanya para badimonton lovers Indonesia membayangkan Indonesia menelan empat kekalahan beruntun dari Prancis.

Jonatan Christie yang gagal menyumbang poin pertama tak bisa menyembunyikan penyesalannya. “Saya minta maaf karena tidak bisa memberikan poin untuk tim Indonesia. Saat ini kami tertinggal tapi saya berharap, teman-teman tidak terpengaruh dengan hal tersebut,” ujarnya.

Nyatanya, posisi ini mempengaruhi rekannya. Alwi Farhan yang selanjutnya mengaku lebih merasakan tekanan. "Hari ini tidak terlalu berbeda pola yang diterapkan lawan tapi dia powernya sangat besar ya, jadi antisipasinya tadi saya beberapa kali lepas. Dia banyak mendapatkan poin dari situ, saya harus perbaiki untuk ke depan," kata dia.

Sementara itu, Anthony Sinisuka Ginting melihat pertandingan sebagai pertarungan yang sebenarnya sudah berada dalam genggaman, sebelum akhirnya lepas di saat krusial. “Di gim ketiga bisa menemukan ritme lagi, sempat unggul di interval. Tapi ya menjelang akhir ada keserimpet yang membuat kakinya sedikit kram,” ungkapnya, menyesali momen yang mengubah arah laga.

Di sektor ganda, Sabar Karyaman Gutama juga mengakui keunggulan lawan. “Kami harus akui bahwa Prancis bermain sangat baik, sangat percaya diri. Ini menjadi pembelajaran berharga buat kami berdua untuk ke depannya,” katanya.

Senada dengan itu, Mohammad Reza Pahlevi Isfahani menyoroti momentum yang hilang. “Kami mohon maaf tidak bisa menyumbang poin yang sangat penting hari ini,” ucapnya. Andai Sabar/Reza menang, Indonesia bakal finis runer up dan masih bisa lolos karena Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri kemudian menyumbang kemenangan. Namun, satu poin itu tak cukup untuk menahan kenyataan pahit.

Ini menjadi titik balik, sebuah peringatan keras bahwa kejayaan masa lalu Indonesia di bulu tangkis belumlah kembali. Di Horsens, para pengurus PBSI harus belajar dari cara yang paling menyakitkan untuk segera berbenah menyongsong target prestisius emas Olimpiade 2028.

Adblock test (Why?)


Pahit, Indonesia Tersingkir di Fase Grup Piala Thomas untuk Kali Pertama dalam Sejarah
Klik Source