
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bouldering dianggap sebagai salah satu disiplin panjat tebing yang paling menantang untuk menghasilkan prestasi tinggi. Bagi Direktur Boulder Planet Indonesia Ronald Fedora Pudjiono, faktor utama bukan hanya kekuatan, tetapi analisis, taktik, dan variasi rute yang kompleks.
“Bouldering itu bukan soal kuat saja,” ujar Ronald dalam kesempatan konferensi pers SEA Boulder League 2026 di Jakarta, Sabtu (14/2/2026).
Ia menjelaskan, rute bouldering dirancang dengan pegangan dan bentuk yang sangat variatif. Ini menuntut atlet untuk membaca pola gerak secara cermat, bukan sekadar menggunakan tenaga.
Ronald menilai bahwa dalam kompetisi, atlet dituntut untuk memikirkan urutan tangan dan kaki dengan cepat karena struktur rutenya tidak bisa dihafal sebelumnya. Sebab, rute bisa diubah dalam setiap babak dalam suatu kompetisi.
Rose setter harus terus membongkar dan merombak jalur agar tetap menantang setiap ronde. Hal ini berbeda jauh dengan speed climbing yang jalurnya seragam.
"Tempat latihan bouldering di mana saja juga tidak ada yang sama jalurnya," kata dia.
Dengan sejumlah alasan di atas, menurut Ronald, prestasi bouldering menjadi lebih sulit diraih. Mulai dari fasilitas yang masih terbatas sampai minimnya kejuaraan menjadi alasannya. Terlebih variasi rute dalam perlombaan internasional disebutnya lebih kompleks.
Dari sisi atlet, ada kebutuhan akan analisis yang jitu sebelum mulai menapaki rute. “Kalau di bouldering, Anda harus membaca rute, menentukan strategi, baru kemudian mengeksekusi. Itu yang membuatnya sulit,” kata dia.
Gaya hidup urban
Namun, Ronald melihat hal tersebut sebagai bagian dari daya tarik olahraga ini. Tidak hanya menjadi ajang kompetisi, bouldering berkembang menjadi bagian dari gaya hidup urban, terutama di Jakarta. Banyak anak muda yang datang ke gym bukan hanya untuk berlatih, tetapi juga untuk bersosialisasi, bertemu teman, bercengkerama, atau sekadar menikmati suasana komunitas.
Boulder Planet sendiri dirancang sebagai ekosistem yang lengkap, yakni tempat latihan, komunitas, bekerja, sampai rekreasi. “Orang datang ke sini, bukan hanya untuk manjat. Mereka makan, ngobrol, kerja, santai, lalu latihan lagi. Itu konsep kami. Jadi bouldering bukan sekadar olahraga, tetapi gaya hidup,” ujar Ronald.
Boulder Planet juga menawarkan berbagai paket layanan yang bisa diakses oleh masyarakat umum maupun para profesional. Untuk karyawan atau pekerja urban, Boulder Planet menyediakan paket keanggotaan dan 10 entry pass yang fleksibel, mirip kelas olahraga lain seperti pilates atau yoga. Ada akses seharian penuh dan bisa digunakan berulang sesuai paket.
Untuk menjadi bagian dari komunitas atau mencoba layanan Boulder Planet, masyarakat hanya perlu mengunjungi gym yang terletak di Central Park Mall 2, Jakarta dan memilih paket sesuai kebutuhan. Fasilitas ini terbuka untuk semua usia, walaupun Ronald mengingatkan bahwa area bouldering bukanlah playground anak kecil tanpa pengawasan.
Ronald mengatakan, Boulder Planet memberikan briefing keselamatan komprehensif bagi pemula sebelum mereka mencoba rute di tempatnya. “Kami ingin semua orang merasa aman saat mencoba bouldering. Meski ekstrem, kami memperhatikan keselamatan mulai dari briefing hingga fasilitas,” katanya.
Dengan semakin banyaknya peminat dan berkembangnya komunitas, Ronald yakin bahwa bouldering tidak hanya akan tumbuh sebagai cabang olahraga prestasi, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup sehat masyarakat Jakarta. Boulder Planet berharap dapat terus menjadi wadah bagi atlet dan komunitas bersama-sama menjadikan olahraga ini menjadi makin dikenal luas.
Bouldering Lebih Sulit Berprestasi Dibandingkan Speed di Panjat Tebing, tapi Jadi Gaya Hidup Urban
Klik Source
No comments:
Post a Comment