:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1319866/original/075658300_1471402173-061031300_1471243660-20160815-Presiden-Jokowi-Tinjau-Gladi-Bersih-Paskibraka-Jakarta-FF2.jpg)
Liputan6.com, Jakarta Paskibraka Nasional 2016 dari Sulawesi Tengah, Ahmad Syaifullah Said, masih menunggu telepon dari orangtua dia yang berada di Donggala saat gempa melanda.
Begitu juga dengan sang pacar yang tinggal di Palu, belum bisa dihubungi sama sekali sejak Jumat, 28 September 2018, malam.
Ulla, begitu dia akrab disapa, mengatakan, sempat menghubungi sang ibu beberapa menit setelah gempa. Hanya saja yang terdengar suara tangisan. Lamanya waktu berbicara tak lebih dari 30 detik karena terputus
"Terus saya coba telepon lagi, diangkat, sudah tak nangis lagi. Katanya mereka di gunung (Bale)," kata Ulla saat berbicara dengan Health Liputan6.com lewat sambungan telepon pada Sabtu, 29 September 2018.
Ulla sudah tiga bulan ini hidup terpisah dari keluarga yang tinggal di Donggala. Paskibraka 2016 yang bertugas sebagai Komandan Kelompok 17 pada upacara di pagi hari tinggal sama sepupu di Makassar untuk melanjutkan kuliah.
Menurut Ulla, masyarakat Donggala memang lumayan bersahabat dengan gempa. Ini bukan yang pertama tapi ini yang paling kuat.
Dia pun syok saat mengetahui kondisi kampung halaman yang berantakan karena gempa, ditambah pula isu bakal terjadi tsunami.
Sejak kemarin malam perasaannya kacau dan ingin segera terbang ke Donggala. Namun, tak ada alternatif lain selain naik pesawat.
"Bisa saja saya terbang ke Poso dulu terus naik mobil ke Palu, tapi tetap tak bisa karena kebun kopi longsor. Terus bandara juga ditutup," kata Ulla melanjutkan.
https://www.liputan6.com/health/read/3655298/orangtua-di-donggala-saat-gempa-paskibraka-nasional-2016-ini-terus-menanti-kabar
No comments:
Post a Comment